Messi; Saya Telah Berusaha, Namun Tak Pernah Berhasil

Kali ini Lionel Messi telah membuat banyak orangterkejut kala dirinya membuat keputusan untuk mengakhiri masa kariernya dari Tim nasional Argentina, tak lama berselang yakni beberapa saat usai skuatnya gagal atas Chile pada tahap adu penalti yakni final Copa America Centenario.

Hasil tersebut adalah kegagalan ke 2 Argentina berturut-durut pada partai final pada persaingan atas lawan serta dengan metode yang sama persis ditahun sebelumnya. kelihatannya, gacoan FC Barcelona tersebut sudah tak lagi dapat membendung kekecewaan.

“Amat disayangkan, sama hal dengan yang sebelumnya kami kembali menelan kegagalan. Saya mengetahui bahwasanya laga akan berlangsung  yakni dengan tidak mudah dan dengan notasi yang sangat besar,” ucap Messi.

“Saya telah sering kali berfikir hat tersebut kerika di kamar ganti. Saya rasa ini suda saat yang tepat bagi saya dalam menyudahi semuanya dan untuk saya ini sebagai keputusan yang paling baik. Saya telah berusaha keras, kami dapat lolos menuju 4 final dan saya tak dapat menjuarainya. Saya telah menampilkan yang terbaik. Hal ini teramat sakit dari yang semuanya, akan tetapi tentunya ini bukanlah sesuatu yang sudah menjadi takdir bagi saya juarakan. Saya sangat berharap meraih gelar pemenang bersama dengan timnas, akan tetapi sungguh disayangkan hal tersebut tidak terjadi.”

“Kami telah melaksanakan dengan apa yang dapat kami keerjakan demi menjuarai sesuatu. Saya telah berfikir semuanya dengan sangat matang. Sama hal yang saya katakan, saya telah menjalankan yang terbaik dan tak dapat memperoleh yang saya harapkan.”

“Saya kesal setelah tak berhasil atas tendangan penalti. Saya rasa ada hal yang salah untuk saya sekarang ini dan saya merasa sangat sedih.”

“Kami telah memutuskan. Saya telah menjalankan yang terbaik demi menjurakan sesuatu dantersebut benar adanya. Saya telah memikirkannya secara matang. Saya telah memberikan seluruhnya dengan semampunya dan saya tak memperoleh hasil yang diharapkan.”

Bisa Tampil di Final, Di Maria Harapkan Cerita Yang Berbeda

Angel Di Maria mempunyai kisah tak mengenakan dengan sederet pertandingan di final. Saat ini, dirinya berharap kisahnya tak sama serta berakhir dengan hasil yang menggembirakan baginya dan juga Argentina.

Pada saat Argentina bermain pada babak final Piala Dunia tahun 2014 lalu, Di Maria tak dapat berperan didalamnya sebab mendapati cedera. Dirinya Cuma dapat menonton yang mendapat sebutan ‘Tim Tango’ ditundukkan Jerman dengan perolehan skor 0-1 melalui fase penambahan.

Hampir satu tahun berlalu, Argentina menuju fase final Copa America tahun 2015. Pada saat itu, Di Maria turut serta ambil bagian atas starting XI. Akan tetapi, kurang lebih 30 menit pertandingan berlangsung, dirinya mesti ditarik keluar dikarenakan mendapati cedera hamstring. kedudukannya ditukar oleh Ezequiel Lavezzi.

Chile dan Argentina, merupakan pesaing mereka pada babak final Copa America tahun 2015, tampil dengan hasil seri yakni 0-0 selama 2 jam bertanding. laga pun diteruskan menuju fase adu penalti, yang mana Argentina takluk dengan skor 1-4.

Saat ini, Argentina kembali menuju tahap final. Hari Senin tanggal 27 juni 2016, yakni pada pukul 07.00 WIB, Argentina dijadwalkan akan bertanding melawan Chile pada babak final Copa America Centenario. Kala itu Di Maria sempat merasa waa-was sebab dirinya mendapati cedera pada saat Argentina tampil dalam laga kontra Panama pada tahap grup dan mulai dari situlah belum kembali  tampil lagi.

Berita baik disampaikan oleh Gerardo Martino, yakni selaku pelatih Argentina. Dari pendapatnya, disamping nama Ezequiel Lavezzi dan Augusto, gelandang yang lain dapat bermain semua. termasuk pula Di Maria.

“Seluruhnya, terkecuali Lavezzi dan Augusto, dapat diturunkan,” ucap Martino ketika konferensi pers.

Di Maria pribadi ingin menyuguhkan aksinya yang lebih untuk kali ini, jika diingat untuk 2 final sebelumnya, dirinya tak dapat berbuat banyak.

“Pada 2 final belakangan, saya tak dapat melakukan hal banyak. Ayo berharap, untuk final kali ini saya dapat berhasil,” ucap Di Maria.

 

 

 

 

‘Bale Memuji Tim Lawan..’

Gelandang gacoan timnas Wales, yakni Gareth Bale, memberikan pujian atas penampilan Irlandia Utara yang ditundukkan skuatnya pada fase 16 besar kompetisi Piala Eropa 2016, hari Sabtu tanggal 25 juni 2016.

Wales kala itu unggul dengen poin tipis yakni 1-0 pada pertandingan atar tim debutan itu yang dilangsungkan di Stadion Parc des Princes. Kala itu penghasil gol tunggal atas keunggulan untuk The Dragons – yakni nama julukan untuk Wales, terjadi disebabkan oleh gol bunuh diri yang dilakukan Gareth McAuley yang merusaha menghalang serangan umpan silang dilakukan Bale.

Walaupun menang, Bale sempat mengaku bahwasannya Irlandia Utara bermain lebih baik dibandingkan dengan timnya.

“Irlandia Utara adalah tim terlebih baik untuk malam ini. Mereka menjadikan laga ini menjadi amat sulit dengan begitu kami tak memperoleh banyak kesempatan meraih peluang,” ujar Bale setelah laga tersebut telah usai.

“Kami sadar bahwa 1 gol akan menjadi penentu. Untuk kami, sudah pasti lebih baik dalam menuju babak perempat walaupun tidak memperlihatkan penampilan terbaik,” ucap gelandang yang kini tengah berusia 26 tahun tersebut.

Menurut Bale dan rekan-rekanya, dalam menuju tahap perempat final adalah sebuah kejutan. Hasil tersebut pun menyamakan pada rekor Wales jetika 58 tahun silam pada saat sukses yakni menuju tahap perempat final Piala Dunia pada tahun 1958.

“Kami telah mempuanyai target untuk laga berikututnya. Sekarang ini, kami bersaha menikmati kesuksesan ini,” ucap gelandang Los Blancos itu.

Kontra Wales pada babak perempat final belumdiputuskan. Mereka mesti menanti hasil laga antara Hungaria kontra Belgia, yang berlangsung pada hari Minggu, tanggal 26 juni 2016, waktu setempat.

 

 

 

Melewati Batistuta, Messi Peraih Skor Tertinggi di Argentina

La Pulga- yakni julukkan untuk Lionel Messi itu, begitu akrab dengan sang pembuat rekor yakni dengan rekor. Baru-baru ini, Lionel Messi mencatatkan dirinya selaku peraih skor tertinggi(top scorer) selama masa Tim nasiona Argentina.

Pada laga semifinal  ajang Copa America 2016 Centenario, kala itu Argentina unggul dengan memperoleh skor akhir 4-0 ketika melawan AS (Amerika Serikat). Saat itu pun Lionel Messi memasukkan satu buah gol lewat aksi tendangan bebas yang dilakukannya yang fenomenal.

Dari hasil golnya itu menjadikan La Pulga sudah mencatatkan sebanyak 55 gol bagi Albiceleste dari total gol yang dikumpulkannya itu telah melewati pencapaian gol pada Gabriel Batistuta. Pada saat seebelumnya, Batistuta selaku pemegang rekor peraih gol terbanyak ‘top scorer’ sepanjang masa Tim Nasional Argentina dengan mencatatkan sebanyak 54 gol.

Dalam kesuksesan dari Amerika Serikat tersebut, gelandang  hebat yakni Lionel Messi juga mencatatkan 2 assist bagi gol Gonzalo Higuain dan juga Ezequiel Lavezzi. La Pulga juga berksempatan dalam menambahkan poin-poin golnya bagi Argentina pada ajang Copa America 2016 Centenario, menggaet mereka lolos ke final.

Dari yang sudah dicapai Argentina menuju tahap final pun menjadi peluang mereka menyudahi puasa atas gelar sejauh dua puluh tiga tahun. Untuk yang terakhir kali Argentina meraih trofi yakni pada tahun 1993 pada saat mereka memenangkan Copa America dengan berhasil menundukkan Meksiko dengan skopr 2-1 pada babak final.

La Puga pastinya berharap untuk yang pertama kalinya mendapatkan trofi bergengsi dengan memakai kostum Argentina. Seluruh title bergengsi pada tingkat  klub sudah La Pulga raih bersama dengan FC Barcelona, dan mungkin sekarang ini saat giliran bagi Argentina.

Kekecewaan Tabarez Suarez Sebagai Gelandang Pelapis

Pelatih dari timnas Uruguay, yakni Oscar Tabarez, mennyampaikan penyebab tak turut sertanya Luis Suarez pada pertandingan Copa America 2016 kontra Venezuela, jumat 10 juni 2016 pagi WIB.

Kala itu Uruguay dengan tak disangka mendapati kembali kegagalan 0-1 atas Venezuela. Dan akhirnya, kesempatan Uruguay pada kompetisi Copa America 2016 kandas.

Pada pertandingan tersebut, kala itu Suarez nampak sangat kecewa pada posisi cadangan. Striker Barcelona tersebut amat frustasi dikarenakan tak diturunkan oleh Tabarez.

Pada saat sebelumnya, Tabarez telah menyatakan bahwa ia tak bakal mengutusnSuarez dalam pertandingan melawan Venezuela. Dengan alasan, Suarez dirasa Tabarez belum lolos dalam keadaan fisik terbaik.

Akan tetapi, ketika pertandingan itu, Suarez terlidhat pada posisi cadangan dan sampai-sampai sempat menjalani pemanasan saat  fase ke 2. Hal tersebut pastinya memunculkan sebuah pertanyaan besar.

Atas hasil pilihannya itu, Tabarez memberikan konfirmasi setelah laga. Dengan alsan masih tetap sama, Suarez tidak pantas tampil sebab masih belum kembali pada kondisi stabil.

“Kondisi tersebut sudah cocok dari yang sudah saya kbicatrakan sebelumnya. Gelandang yang dimaksud tak siap untuk bertanding,” ucap Tabarez.

“Saya tak bakal menyuruh pemain bertandingapabila gelandang tesebut dalam keadaan tidak 100%. Apabila Suarez kesal, hal tersebut merupakan hal yang tidak saya tahu. Dirinya tidak mengatakan sepatah kata pun terhadap saya,” ujar lelaki yang kini berusi 69 tahun itu.

Tabarez memberi tambahan bahwasannya pada 18 hari yang lalu, pada saat itu Suarez mendapati cedera yang sangat serius. Tabarez juga tidak ingin mendapati resiko yang semakin besar yakni dengan menurunkan Suarez

Uruguay bakal terhempas usai Meksiko mendapati keunggulan yakni 2-0 kontra Jamaika. Uruguay juga saat ini berada pada posisi sebagai pelakon utama Grup C pada ajang Copa America 2016.

Kontra Muenchen, Pertandingan Perdana Guardiola Dengan City

Dari segi Karier dari Pep Guardiola sebagai seorang pelatih akan memasuki fase baru. Pria asal Spanyol tersebut selaku manajer untuk The Citizens mulai tahun  2016/2017. Beberapa saat sebelumnya, Guardiola sempat menjadi pelatih untuk FC Barcelona yakni pada tahun 2008 hingga 2012 serta Bayern Muenchen pada tahun 2013 hingga 2016.

Pada pertandingan yang pertama untuk Guardiola selaku manager City akan melawan eks dari klubnya yakni Muenchen. Pertandingan persahabatan tersebut digelar di Allianz Arena, Muenchen, yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2016 mendatang.

Sebetulnya tidak hanya Guardiola, pertandingan tersebut juga sebagai laga yang pertama untuk  Carlo Ancelotti selaku pelatih bagi Muenchen. Pria asal Italia tersebut dipilih selaku Guardiola yangmasa kontraknya bersama dengan Muenchen yang tamat pada bulan Juni 2016.

Laga ini merupakan serangkaian persiapan Manchester City dan juga Muenchen jelang tahun 2016/2017 dengan hadirnya pelatih baru. Pada waktu sebelumnya yakni terakhir, dari kedua tim berjumpa pada pergelaran Liga Champions tahun 2014/2015. Ketika itu, Muenchen unggul dengan skor 1-0. The Citizens selanjutnya membalas ketinggalan tersebut yang dilangsungkan di Etihad Stadium dengan skor akhir 3-2.

“Penggemar kami pastinya akan menyambut sang pelatih baru kami yakni Carlo Ancelotti dengan penuh semangat, serta menghadirkan suasana yang luar biasa pana suasana dan tempat yang baru. Kami amat senang menyambut Pep Guardiola beserta tim barunya comeback menuju Muenchen lebih cepat,” ucap Chairman FC Bayern, Karl-Heinz-Rummenigge, seperti yang disampaikan Soccerway, hari Senin, tanggal 6 juni 2016.

“Tampil kontra Bayern Muenchen sering kali sebagai peluang besar, dan pertandingan ini semakin menjadikan rasa berapi-api dari pelatih baru kami yakni Pep Guardiola yang kembali berjumpa dengan eks klubnya bersama City. Muenchen sebagai penantang yang sama kuat ketika  tim kami terus menyiapkan untuk pra-musim dan kami bisa berjumpa dengan fans kami yang ada di Jerman,” ujar Chief Executive Manchester City, yakni Ferran Soriano.

Bila Juara, Olivier Giroud Akan Mewarnai Janggutnya

Olivier Giroud akan mewarnai janggutnya yakni dengan warna yang dipakai pada bendera Perancis, diantaranya warna biru, putih, dan juga merah. Dengan syarat, tim nasional yang merupakan didikan dari Didier Deschamps memenangkan Piala Eropa 2016.

Hal tersebut merupakan salah satu bagian dari jaminan antara Giroud dengan osteopati The Gunners dan tim nasional Perancis, yakni Philippe Boixel.

“Saya mesti menjaga dan merawat janggut sampai dengan Piala Eropa. Jika kami berhasil keluar sebagai pemenang, saya dapar mengecatnya dengan warna biru, putih, dan merah,” ucap Giroud terhadap media surat kabar bernama Le Dauphine.

Sebagai tuan rumah, Perancis tentu sebagai andalan pada turnamen tersebut. Mereka menjuarai 4 partai uji coba yakni dengan cara secara berturut-turut.

Pada grup A, kala itu Perancis akan berduel dengan Albania, Rumania, serta Swiss. Persaingan antara Perancis dengan Rumania akan dilangsungkan di Stade de France, pada tanggal 10/6/2016, akan sebagai partai pembuka.

Lebih dari ini, hasrat yang sama Giroud sebetulnya bukan yang pertama kalinya disampaikan pemain sepak bola. Kala itu juga salah seorang pelatih Latvia, yakni Aleksandrs Starkovs, dan Presiden Montpellier bernama Louis Nicollin pun melakukan hal yang sama “merelakan” rambutnya.

Starkovs merubah warna pada rambutnya dengan warna yang sama pada bendera Latvia usai menggandeng tim masuk menuju Piala Eropa tahun 2004 lalu. Ada pula Nicollin bermain dengan rambut dengan warna merah serta biru usai klubnya memenangkan Ligue 1 pada tahun 2011-2012.

Giroud pribadi masuk kedalam skuad Montpellier pada saat itu. Dirinya sebagai top scorer dengan menghasilkan sebanyak 21 gol.